Akuntan Masih Minim, MEA Sudah di Depan Mata



Akuntan harus semakin melek teknologi informasi (TI). Akuntansi dan digital ibarat mata uang yang tidak dapat dilepaskan, karena akuntansi butuh IT untuk terus mengupdate data dan informasi.

"Sementara IT itu butuh akuntan untuk membahasakan proses akuntansi dalam dunia sistem," ujar Sulasmo Sudarno, pendiri Moco, aplikasi social reading, dalam kesimpulan diskusi seminar nasional 'Peran Akuntan dalam Mewujudkan Bisnis yang Berintegritas' di kampus Universitas Widya Gama Malang, Minggu (20/3/2016). 

Menurut dia, profesi akuntan mengalami perkembangan pesat seiring tingginya tuntutan masyarakat dunia usaha dan perkembangan global. Sebagai profesional di bidang akuntansi, seorang sarjana akuntansi dapat mengembangkan karirnya sebagai pengusaha atau sebagai akuntan profesional, seperti akuntan publik, akuntan intern, akuntan pemerintah, dan akuntan pendidik.

"Apalagi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang mulai berlaku tahun ini menjadi tantangan serius harus dihadapi Indonesia di berbagai sektor. Salah satunya di bidang jasa profesi akuntan," kata Sulasmo. 

Sementara itu, Rektor Universitas Widya Gama Malang Prof Iwan Nugroho mengatakan bahwa untuk menghadapi hal itu pemerintah telah menyiapkan berbagai perangkat peraturan untuk menjamin adanya persaingan sehat dan kompetitif dalam penyediaan jasa profesi akuntan. Namun, itu bukan berarti membuat akuntan di Indonesia berpangku tangan.

"Akuntan kita harus siap menghadapi persaingan dengan akuntan asing, terutama dalam menawarkan jasa profesinya. Perlu strategi bagi lulusan sarjana akuntansi dalam menghadapi tantangan MEA itu," kata Iwan.  

Minim




Profesi konsultan akan menghadapi peluang yang semakin terbuka lebar di dunia konsultan.   hingga saat ini. Akuntan makin keras berkompetisi di negeri sendiri. 

"Persaingan di era (MEA) ini harus menjadi motivasi kita menjadi pengusaha di negeri sendiri," ujar Sekretaris DPP Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) Jawa Timur, Adi Prawito. 

Adi juga menyoroti masih minimnya jumlah akuntan di Indonesia. Mengacu data Inkindo, dia membandingkan jumlah profesi akuntan di beberapa negara anggota ASEAN. 

Di Thailand misalnya, lanjut Adi, jumlah akuntan sebanyak ‎56.125 orang, ‎sementara Malaysia‎ berjumlah 30.236 orang. Adapun di Singapura sebanyak 27.394, Philipina‎ sebanyak 19.573 akuntan, sedangkan di Indonesia sebanyak 15.940 orang. 

"Masih minimnya jumlah akuntan di Indonesia ketimbang akuntan asing di Asia Tenggara  menjadikan Ikatan Akuntan Indoensia (IAI) sebagai lembaga profesional akuntansi harus terus berupaya melakukan sertifikasi akuntan untuk menjadi akuntan profesional," kata Adi.  

Dia mengatakan, akuntan di Indonesia mau tak mau memang harus siap berkompetisi. Kompetisi yang sehat, kreatif, dan inovatif di era MEA ini.

"Tidak usah takut bersaing dengan akuntan asing. Syaratnya, kita harus fokus menyiapkan skil, kreatif dan inovatif," ujarnya.

dikutip dari kompas.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Akuntan Masih Minim, MEA Sudah di Depan Mata"

Posting Komentar